Kamis, 20 Maret 2014

Daftar Pustaka buku Antropologi

Daftar Pustaka buku Antropologi

Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ayatrohaedi. 1983. Dialektologi Suatu Pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud.

Badan Standarisasi Nasional Pendidikan DEPDIKNAS. 2006. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran Antropologi SMA. Jakarta: DEPDIKNAS.

Budiman, Kris. 2002. Di Depan Kotak Ajaib: Menonton Televisi sebagai Praktik Konsumsi. Yogyakarta: Galang Press.

Cassirer, Ernest. 1990 Manusia dan Kebudayaan Sebuah Esai tentang Manusia. Jakarta: PT Gramedia.

Chaney, David. 2004. Life Style Suatu Pengantar Komprehensif (Terj).Bandung: Jalasutra.

Danandjaja, James. 1994. Folklor Indonesia: Ilmu, Gosip, dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Geertz, Clifford. 1989. Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Grafiti Pers.

Geertz, Clifford. 1982. Involusi Pertanian. Jakarta: Bhratara.

Geertz, Clifford. 1995. Interpretasi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Geertz, Hildred. 1981. Aneka Budaya dan Komunitas di Indonesia. Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial.

Harris, Marvin.1996. Culture, People, Nature: An Introduction to General Anthropology. New York. Longman.

Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Ende: Penerbit Nusa Indah.

Koetjaraningrat. 1989. Kamus Antropologi. Bandung: Rhineka Cipta.

Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Koetjaraningrat. 1996. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI Press.

Kuntowijoyo. 1994. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Kuper, Adam dan Jeniffer (Eds). 2000. Ensiklopedi Ilmu Sosial. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Levinson, David. 1996. Encyclopedia of Cultural Anthropology Vol. IV. New York: Holt & Rheinhart Company. Nasikun. 2004. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Pateda, Mansoer. 1991. Linguistik Terapan. Ende: Penerbit Nusa Indah.

Pei Mario. 1965. Kisah Daripada Bahasa, Terj. Nugroho Notosusanto. Jakarta: Bhratara. Poedjosoedarmo, Soepomo. 2001. Filsafat Bahasa. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Rogers, Everett. M.1963. Diffusion of Innovations. New York: The Free Press.

Soekmono.1998. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia I. Yogyakarta: PT Kanisius.

Taylor, E. B.. 2002. A Reader in The Anthropology of Religion. Boston: Balckwell.

Thomson, Richard T. 1996. Encyclopaedia of Cultural Anthropology Vol. I. New York: Henry Holt.

Tim Penyusun Indonesian Heritage. 2002. Indonesian Heritage 10: Bahasa dan Sastra. Jakarta: Grolier.

Tim Penyusun Indonesian Heritage. 2002. Indonesian Heritage 9: Agama dan Upacara. Jakarta: Grolier.

Yudi Cahyono, Bambang. 1994. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa. Malang: Tanpa Penerbit.

Dampak Keberagaman Budaya di Indonesia

Dampak Keberagaman Budaya di Indonesia


Dalam bab sebelumnya telah dipaparkan mengenai potensi keberagaman budaya di Indonesia. Yang menjadi sebuah pertanyaan besar adalah dampak dari keberagaman budaya bagi integrasi bangsa. Di dalam potensi keberagaman budaya tersebut sebenarnya terkandung potensi disintegrasi, konflik, dan separatisme sebagai dampak dari negara kesatuan yang bersifat multietnik dan struktur masyarakat Indonesia yang majemuk dan plural. Menurut David Lockwood konsensus dan konflik merupakan dua sisi mata uang karena konsensus dan konflik adalah dua gejala yang melekat secara bersama-sama di dalam masyarakat. Sejak merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia selalu diwarnai oleh gerakan separatisme, seperti gerakan separatis DI/TII dan RMS di Maluku. Gerakan tersebut saat ini juga berlangsung di Provinsi Papua yang dilakukan oleh OPM (Organisasi Papua Merdeka) di provinsi paling timur di Indonesia tersebut.

Gambar 3.1 Dampak gerakan separatisme di Indonesia

Karena struktur sosial budayanya yang sangat kompleks, Indonesia selalu berpotensi menghadapi permasalahan konflik antaretnik, kesenjangan sosial, dan sulitnya terjadi integrasi nasional secara permanen. Hal tersebut disebabkan adanya perbedaan budaya yang mengakibatkan perbedaan dalam cara pandang terhadap kehidupan politik, sosial, dan ekonomi masyarakat. Menurut Samuel Huntington, Indonesia adalah negara yang mempunyai potensi disintegrasi paling besar setelah Yugoslavia dan Uni Soviet pada akhir abad ke-20. Menurut Clifford Geertz apabila bangsa Indonesia tidak mampu mengelola keanekaragaman etnik, budaya, dan solidaritas etniknya maka Indonesia akan berpotensi pecah menjadi negara-negara kecil. Misalnya, potensi disintegrasi akibat gerakan Organisasi Papua Merdeka yang menginginkan kemerdekaan Provinsi Papua dari Indonesia.

Kemajemukan masyarakat Indonesia merupakan potensi yang memperkaya budaya nasional. Namun, di sisi lain di dalam kemajemukan juga tersimpan potensi disintegrasi nasional. Kecenderungan masing-masing kelompok kultural untuk terorganisasi secara politik akan menciptakan sentimen primordial dan mengembangkan politik aliran yang dapat mengancam integrasi nasional.

Pola kemajemukan masyarakat Indonesia dapat dibedakan menjadi dua.
    Pertama, diferensiasi yang disebabkan oleh perbedaan adat istiadat (custom differentiation) karena adanya perbedaan etnik, budaya, agama, dan bahasa.
    Kedua, diferensiasi yang disebabkan oleh perbedaan struktural (structural differentiation) yang disebabkan oleh adanya perbedaan kemampuan untuk mengakses potensi ekonomi dan politik antaretnik yang menyebabkan kesenjangan sosial antaretnik.

Sebagai masyarakat majemuk, Indonesia memiliki dua kecenderungan atau dampak akibat keberagaman budaya tersebut, antara lain sebagai berikut.
    1. Berkembangnya perilaku konflik di antara berbagai kelompok etnik.
    2. Pemaksaan oleh kelompok kuat sebagai kekuatan utama yang mengintegrasikan masyarakat.

Namun, kemajemukan masyarakat tidak selalu menunjukkan sisi negatif saja. Pada satu sisi kemajemukan budaya masyarakat menyimpan kekayaaan budaya dan khazanah tentang kehidupan bersama yang harmonis apabila integrasi masyarakat berjalan dengan baik. Pada sisi lain, kemajemukan selalu menyimpan dan menyebabkan terjadinya potensi konflik antaretnik yang bersifat laten (tidak disadari) maupun manifes (nyata) yang disebabkan oleh adanya sikap etnosentrisme, primordialisme, dan kesenjangan sosial.

Salah satu gejala yang selalu muncul dalam masyarakat majemuk adalah terjadinya ethnopolitic conflict berbentuk gerakan separatisme yang dilakukan oleh kelompok etnik tertentu. Etnopolitic conflict dapat dilihat dari terjadinya kasus Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Gerakan perlawanan ini bukan hanya timbul karena didasari oleh adanya ketidakpuasan secara politik masyarakat Aceh yang merasa hak-hak dasarnya selama ini direbut oleh pemerintah pusat. Selama ini rakyat Aceh merasa terpinggirkan untuk mendapatkan akses seluruh kekayaan alam Aceh yang melimpah ditambah adanya sikap primordialisme dan etnosentrisme masyarakat Aceh yang sangat kuat.

Pola etnopolitic conflict dapat terjadi dalam dua dimensi, yaitu:
    pertama, konflik di dalam tingkatan ideologi. Konflik ini terwujud dalam bentuk konflik antara sistem nilai yang dianut oleh pendukung suatu etnik serta menjadi ideologi dari kesatuan sosial.
    Kedua, konflik yang terjadi dalam tingkatan politik. Konflik ini terjadi dalam bentuk pertentangan dalam pembagian akses politik dan ekonomi yang terbatas dalam masyarakat.

Perbedaan kesejarahan, geografis, pengetahuan, ekonomi, peranan politik, dan kemampuan untuk mengembangkan potensi kebudayaannya sesuai dengan kaidah yang dimiliki secara optimal sering menimbulkan dominasi etnik dalam struktur sosial maupun struktur politik, baik dalam tingkat lokal maupun nasional. Dominasi etnik tersebut pada akhirnya melahirkan kebudayaan dominan (dominant culture) dan kebudayaan tidak dominan (inferior culture) yang akan melahirkan konflik antaretnik yang berkepanjangan. Dominasi etnik dan kebudayaan dalam suatu masyarakat apabila dimanfaatkan untuk kepentingan golongan selalu melahirkan konflik yang bersifat horizontal dan vertikal.

Gambar 3.2 Gerakan separatis GAM

Ciri khas masyarakat majemuk seperti keanekaragaman suku bangsa telah menghasilkan adanya potensi konflik antarsuku bangsa dan antara pemerintah dengan suatu masyarakat suku bangsa. Potensi-potensi konflik tersebut merupakan permasalahan yang ada seiring dengan sifat suku bangsa yang majemuk. Selain itu, pembangunan yang berjalan selama ini menimbulkan dampak berupa terjadinya ketimpangan regional (antara Pulau Jawa dengan luar Jawa), sektoral (antara sektor industri dengan sektor pertanian), antarras (antara pribumi dan nonpribumi), dan antarlapisan (antara golongan kaya dengan golongan miskin).

Bangsa Indonesia pada saat ini dikenal sebagai bangsa yang kental dengan budaya kekerasan. Misalnya, terjadinya konflik bernuansa sara di berbagai daerah, tawuran antarkelompok, dan kerusuhan massa di berbagai daerah.
Bagaimana pendapat Anda mengenai citra Indonesia tersebut?
Apa yang bisa Anda lakukan untuk mencegah budaya kekerasan tersebut?

Potensi Keberagaman Budaya di Indonesia

Potensi Keberagaman Budaya di Indonesia


Indonesia adalah sebuah masyarakat majemuk yang tercermin dari semboyan bangsa Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan itu mengandung arti bahwa bangsa Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri atas masyarakat-masyarakat suku bangsa yang dipersatukan dan diatur oleh sistem nasional berupa bahasa, bendera, lagu kebangsaan, dan peraturan perundangan dalam satu kesatuan Republik Indonesia. Di antara 175 negara anggota PBB yang bersifat multietnik, hanya sekitar 12 negara yang struktur sosialnya homogen, seperti Jerman, Jepang, dan Somalia.

Menurut Clifford Geertz, aneka ragam kebudayaan yang berkembang di Indonesia dapat dibagi menjadi dua tipe berdasarkan ekosistemnya, antara lain sebagai berikut.

Kebudayaan Indonesia Dalam Kebudayaan yang berkembang di Indonesia Dalam, yaitu daerah Jawa dan Bali ini, ditandai oleh tingginya intensitas pengolahan tanah secara teratur dan telah menggunakan sistem pengairan dan menghasilkan padi yang ditanam di sawah. Dengan demikian, kebudayaan di Jawa yang menggunakan tenaga kerja manusia dalam jumlah besar disertai peralatan yang relatif lebih kompleks merupakan perwujudan upaya manusia mengubah ekosistemnya untuk kepentingan masyarakat.

Kebudayaan Indonesia Luar Kebudayaan yang berkembang di Indonesia Luar, yaitu di luar Pulau Jawa dan Bali, kecuali di sekitar Danau Toba, dataran tinggi Sumatra Barat dan Sulawesi Barat Daya yang berkembang atas dasar pertanian perladangan. Ekosistem di daerah ini ditandai dengan jarangnya penduduk yang pada umumnya baru beranjak dari kebiasaan hidup berburu ke arah hidup bertani. Oleh karena itu, mereka cenderung untuk menyesuaikan diri mereka dengan ekosistem yang ada sehingga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat mereka melakukan migrasi ke daerah lain. Sistem kebudayaan masyarakat yang berkembang di daerah ini adalah kebudayaan masyarakat pantai yang diwarnai kebudayaan alam pesisir, kebudayaan masyarakat peladang, dan kehidupan masyarakat berburu yang masih sering berpindah tempat.


Sumber: Indonesian Heritage 9
 

1. Keberagaman Budaya di Indonesia

Posisi geografis Indonesia yang sangat strategis mendorong terbentuknya heterogenitas budaya yang membentuk perilaku sosial, sistem nilai, pandangan hidup, dan sistem kepercayaan yang dilestarikan sebagai wujud ikatan primordial. Kepulauan Indonesia merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang sangat ramai karena terletak di antara dua samudra, yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Melalui aktivitas perdagangan antarnegara ini pengaruh kebudayaan asing masuk ke Indonesia seperti kebudayaan India yang membawa penyebaran pengaruh agama Buddha dan Hindu. Selain menerima pengaruh agama Hindu, Indonesia juga menerima pengaruh agama Islam yang disebarkan para pedagang muslim yang menelusuri jalur perdagangan di pantai laut Hindia sampai ke Aceh dan pantai utara Sumatra. Selanjutnya, para pedagang muslim dan para sufi, selain berdagang juga menyebarkan agama dan budaya Islam di Sumatra, Jawa, hingga Maluku.

Kerajaan yang menerima pengaruh budaya Islam terdapat di pedalaman Jawa, yaitu di Kerajaan Mataram. Di Kerajaan Mataram Islam terjadi akulturasi budaya Islam dengan budaya Hindu-Jawa yang menciptakan campuran budaya Hindu, Jawa, dan Islam. Meskipun secara formal penduduk Mataram beragama Islam, namun raja Mataram melestarikan bentuk-bentuk budaya Hindu dalam ritual kerajaan, seperti budaya labuhan dan sesaji.

Pada masa penjajahan, Indonesia menerima pengaruh budaya Barat dari penjajah Portugis, Inggris, dan Belanda yang beragama Kristen dan Katolik. Pengaruh kebudayaan Kristen dan Katolik tersebut berkembang di daerah Sumatra Utara, Sulawesi Utara, Toraja, Ambon, dan Nusa Tenggara Timur. Selanjutnya, kebudayaan Kristen tersebut bercampur dengan kebudayaan masyarakat setempat.

Melihat struktur sosial masyarakat Indonesia yang beraneka ragam budaya, etnik, ras, agama, dan bahasanya maka masyarakat Indonesia dapat digolongkan sebagai masyarakat majemuk.

a. Kemajemukan berdasarkan Agama

Struktur sosial masyarakat Indonesia ditandai oleh keragaman di bidang agama yang dianut oleh suku-suku bangsa tertentu. Suku bangsa Aceh yang tinggal di Sumatra mayoritas memeluk agama Islam, sedangkan suku bangsa Batak yang tinggal di Provinsi Sumatra Utara mayoritas beragama Kristen. Di lain pihak, suku bangsa Jawa, Sunda, dan Betawi yang tinggal di Pulau Jawa mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Sebagian besar penduduk Bali memeluk agama Hindu, sedangkan mayoritas penduduk Pulau Lombok yang berbatasan dengan Bali memeluk agama Islam. Keragaman agama dan kepercayaan di Indonesia juga tercermin dari praktik religi dan kepercayaan yang dianut oleh suku-suku pedalaman di Indonesia. Misalnya, suku bangsa Dayak di Kalimantan yang masih mempraktikkan ritual-ritual animisme dan dinamisme warisan nenek moyang.

b. Kemajemukan berdasarkan Bahasa

Kemajemukan masyarakat Indonesia juga tercermin dari penggunaan bahasa di Indonesia. Menurut Clifford Geertz, di Indonesia terdapat 300 suku bangsa yang berbicara dalam 250 bahasa. Di Jawa, suku bangsa Sunda berbicara dengan bahasa Sunda, suku bangsa Jawa di Jawa Tengah dan Jawa Timur mengunakan bahasa Jawa, dan suku bangsa Madura yang tinggal di Pulau Madura berbicara dengan menggunakan bahasa Madura. Di Sumatra setiap etnik berkomunikasi dengan bahasa daerahnya masing-masing. Suku bangsa Melayu yang terdiri atas suku bangsa Aceh, Batak, dan Melayu, berbicara memakai bahasa daerahnya masing-masing. Di Provinsi Aceh, terdapat empat macam bahasa, yaitu Gayo-Alas, Aneuk Jamee, Tamiang, dan bahasa Aceh yang masing-masing penuturnya tidak dapat memahami penutur bahasa setempat lainnya. Kemajemukan bahasa di Indonesia juga tercermin dari penggunaan ragam bahasa khusus yang dipakai beberapa suku-suku pedalaman di Indonesia. Menurut Raymond Gordon, di Provinsi Papua terdapat 271 buah bahasa. Bahasa terbesar yang dipakai di Papua adalah bahasa Biak Numfor yang dipakai oleh 280.000 orang, sedangkan jumlah pemakai bahasa terkecil adalah bahasa Woria yang hanya dipakai oleh 5 orang anggota suku Woria. Selain itu, keragaman bahasa juga terdapat di berbagai daerah di Pulau Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.

c. Kemajemukan berdasar Ras dan Etnik

Masyarakat awal pada zaman praaksara yang datang pertama kali di Kepulauan Indonesia adalah ras Austroloid sekitar 20.000 tahun yang lalu. Selanjutnya, disusul kedatangan ras Melanosoid Negroid sekitar 10.000 tahun lalu. Ras yang datang terakhir ke Indonesia adalah ras Melayu Mongoloid sekitar 2500 tahun SM pada zaman Neolithikum dan Logam. Ras Austroloid kemudian bermigrasi ke Australia dan sisanya hidup di di Nusa Tenggara Timur dan Papua. Ras Melanesia

Mongoloid berkembang di Maluku dan Papua, sedangkan ras Melayu Mongoloid menyebar di Indonesia bagian barat. Rasras tersebut tersebar dan membentuk berbagai suku bangsa di Indonesia.

d. Kemajemukan Berdasar Budaya dan Adat Istiadat

Menurut van Vollenhoven, masyarakat Indonesia dikelompokkan menjadi 23 suku bangsa yang memiliki sistem budaya dan adat yang berbeda-beda. 23 suku bangsa tersebut, antara lain
    1) Aceh;
    2) Gayo-Alas dan Batak;
    3) Nias dan Batu;
    4) Minangkabau;
    5) Mentawai;
    6) Sumatra Selatan;
    7) Enggano;
    8) Melayu;
    9) Bangka dan Belitung;
    10) Kalimantan;
    11) Sangir Talaud;
    12) Gorontalo;
    13) Toraja;
    14) Sulawesi Selatan;
    15) Ternate;
    16) Ambon dan Maluku;
    17) Kepulauan Barat Daya;
    18) Irian;
    19) Timor;
    20) Bali dan Lombok;
    21) Jawa Tengah dan Jawa Timur;
    22) Surakarta dan Yogyakarta;
    23) Jawa Barat.
 
Berdasarkan penelitian antropolog J.M Melalatoa, di Indonesia terdapat kurang lebih 500 suku bangsa. Menurut Zulyani Hidayah, di Indonesia terdapat kurang lebih 656 suku bangsa. Di antara suku-suku bangsa tersebut suku bangsa Jawa merupakan suku bangsa terbesar dengan jumlah penduduk sebesar 90 juta jiwa. Namun, terdapat pula suku bangsa yang terdiri atas 981 jiwa, yaitu suku bangsa Bgu di pantai utara Provinsi Papua.

Budaya dan adat istiadat suku-suku bangsa di indonesia tersebut mempunyai berbagai perbedaan. Suku-suku bangsa yang sudah banyak bergaul dengan masyarakat luar dan bersentuhan dengan budaya modern seperti suku Jawa, Mingkabau, Batak, Aceh, dan Bugis memiliki budaya lokal yang berbeda dengan suku-suku bangsa yang masih tertutup atau terisolir seperti suku Dayak di pedalaman Kalimantan dan suku Wana di Sulawesi Tengah.

Menurut Bruner, struktur masyarakat majemuk di Indonesia menunjukkan adanya kebudayaan dominan yang disebabkan oleh dua hal, sebagai berikut.
a. Faktor Demografis Di Indonesia, kesenjangan jumlah penduduk yang sangat timpang terjadi antara Pulau Jawa dan luar Jawa. Meskipun luas, Pulau Jawa hanya delapan persen dari seluruh wilayah Indonesia. Sekitar 70 persen penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa sehingga secara demografis penduduk Pulau Jawa lebih dominan dibandingkan dengan di Pulau luar Jawa.
b. Faktor Politis Dominasi etnik tertentu dalam struktur pemerintahan Indonesia mengakibatkan banyak sekali kebijakan-kebijakan dari pemerintah pusat yang cenderung dianggap tidak adil sebab seringkali menguntungkan golongan tertentu sehingga menimbulkan ketidakpuasan bagi kelompok lainnya. Selain itu, kegagalan mengartikulasikan kepentingan politik lokal dan tersumbatnya komunikasi politik menyebabkan terjadinya konflik sosial antaretnis. Dengan struktur sosial yang bersifat majemuk maka masyarakat Indonesia selalu menghadapi permasalahan konflik etnik, diskriminasi sosial, dan terjadinya disintegrasi masyarakat. Diferensiasi sosial yang melingkupi struktur sosial kemajemukan masyarakat Indonesia, antara lain sebagai berikut.
1) Diferensiasi yang disebabkan oleh perbedaan adat istiadat (custom differentiation) yang timbul karena perbedaan etnik, budaya, agama, dan bahasa.
2) Diferensiasi struktural (structural differentiation) yang disebabkan oleh perbedaan kemampuan untuk mengakses sumber ekonomi dan politik antaretnik sehingga menyebabkan kesenjangan sosial antara etnik yang berbeda dalam masyarakat. Kemajemukan dan heterogenitas masyarakat Indonesia harus dikembangkan menjadi sebuah model keberagaman budaya untuk mencegah timbulnya konflik-konflik sosial akibat perbedaan sistem nilai dan budaya antarkelompok masyarakat di Indonesia.
 

2. Penanganan Masalah Akibat Keberagaman Budaya

Penanganan masalah akibat keberagaman budaya membutuhkan pendekatan yang bijak karena masalah keberagaman berhubungan isu-isu sensitif, seperti suku, agama, ras, dan antargolongan (sara). Dalam menangani masalah yang ditimbulkan keberagaman budaya diperlukan langkah dan proses yang berkesinambungan. Pertama, memperbaiki kebijakan pemerintah di bidang pemerataan hasil pembangunan di segala bidang. Hal ini disebabkan karena permasalahan yang ditimbulkan karena perbedaan budaya merupakan masalah politis. Kedua, penanaman sikap toleransi dan saling menghormati adanya perbedaan budaya melalui pendidikan pluralitas dan multikultural di dalam jenjang pendidikan formal. Sejak dini, siswa ditanamkan nilai-nilai kebersamaan, saling menghormati, toleransi, dan solidaritas sosial sehingga mampu menghargai perbedaan secara tulus, komunikatif, dan terbuka tanpa adanya rasa saling curiga. Dengan demikian, model pendidikan pluralitas dan multikultur tidak sekadar menanamkan nilai-nilai keberagaman budaya, namun juga memperkuat nilai-nilai bersama yang dapat dijadikan dasar dan pandangan hidup bersama.

Facebook Comments